Saturday, January 12, 2013

Arti Nama-Nama Anak KPI C


Inilah ARTI nama dari anak2 penghuni KPI C T.A 2012. insyaAllah bermanfaat pkokny..
check this out :
  1. Arik     : Anak Rajin, Incer Karir
  2. Adam  : Anak Dikutuk Ama Mamanya
  3. Ola      : Ora Lanang (Bukan Cowok), Asli Kok
  4. Suhairi : Sudah Hampir Mirip (Ama Nabi Palsu)
  5. Taufik  : Tahu & Kerifik
  6. Hardi    : Hah Agak Rempong Dia
  7. Ani       : Anak Narsis Indonesia
  8. Arli       : Agak Rempong, Lalu Insyaf
  9. Sodri    : Somay Bikinan Sendiri
  10. Lapsee  : Lama Pisah Sama “Ehem-Ehem”
  11. Bela      : Belahan Jiwa Lapsee
  12. Eky       : Enggak Kurang Yeeee
  13. Helmi               : (Juragan) Helm & Minyak
  14. Roihan  : Rodo Isinan, Hah Apa Iya Neng?
  15. Hamim  : Halah Mimpi
  16. Farah     : Faling Rempong Aku,Haahaha
  17. Ita          : Ini Twin Asli
  18. Naim     : Nah Aku Ingin Mikir
  19. Rifki      : Rada Imut, Fadahal Kan I Don’t Know
  20. Fikri       : Aceng
  21. Fajar    : Facaran Atau Jadian, Agak Repot
  22. Cika     : Cicipi, Kurang Apa???
  23. Soleh   : Seolah Lembut Hatinya (Padahal Emang Iya To?)
  24. Ubay   : Uhhh, Bahaya
  25. Alma   : Agak Lola, Maklum (Masih) Anak2
  26. Ratih   : Rada Putih (Haha Garing)
  27. Nadia  : Nakal Dan Iseng Amat
  28. Dian    : Diam2, Agak Nakal
  29. Filza    : Film Zaman Kapan??? (Before Century??)
  30. Febri    : Januari, Februari, Dst....
  31. Yuyun : Yang Usil & Yang Unyu (Bukan Muji Lo)
  32. Anwar : Anwaratussholihah
  33. Zulfi    : Zulfinda & Febrian
  34. Khanza : Kahanan Zaman
  35. Elmi       : Enggak Lama Mikir
  36. Wahyu   : Waduh, Yaudahlah Sekian Dan Terima Kasih (Sekalian Penutup) 


mohon maaf klo tidak enak dihati,,namun bagaimanapun inilah bentuk rasa cintaku pada kalian guys,,agar teringat hingga akhir khayat,hehehe

semoga bermanfaat!!!
Asyhari Amri & KPI C

Read More

Friday, January 11, 2013

Amazing Messi LM10

Zurich - Sudah tiga kali meraih Ballon d'Or, Lionel Messi mengaku masih gugup saat namanya diumumkan sebagai pemenang edisi tahun 2012. 'Bola Emas' keempatnya itu dia persembahkan untuk keluarganya.

Mengumpulkan 41,60% suara dari polling yang dilakukan terhadap kapten dan pelatih tim nasional seluruh anggota FIFA, Messi kembali terpilih memenangi Ballon d'Or. Dia mengalahkan Cristiano Ronaldo yang ada di posisi dua dengan 23,68% suara dan Andres Iniesta yang meraih 10,91%.

Ini merupakan Ballon d'Or keempat yang diraih Messi, setelah sebelumnya dia raih di tahun 2009, 2010 dan 2011. Pesepakbola asal Argentina itu pun menjadi orang pertama yang bisa melakukannya, melangkahi Michel Platini yang pernah tiga kali beruntun.

Dalam pernyataannya usai diserahi Ballon d'Or, Messi mendidikasikan penghargaan yang diraihnya itu untuk keluarnganya. Messi baru kedatangan anggota keluarga baru setelah anaknya, Thiago, lahir dua bulan lalu.

"Menyenangkan bisa memenanginya lagi, untuk keempat kalinya secara beruntun. Saya sungguh gembira. Faktanya, saya selalu menikmati semua yang terjadi pada diri saya. Saya memenanginya, dan saya harap saya bisa terus berlanjut bersama klub dan tim nasional," sahut Messi.

"Saya tidak bisa memikirkan apa-apa dan saya bahkan tidak tahu harus berkata apa. Saya ingin mendidakasikan sukses ini untuk keluarga saya," lanjut Messi seperti dikutip dari situs resmi FIFA.

Sejak kelahiran Thiago pada 2 Novemver 2012 lalu, Messi mencetak 19 gol dalam 1.202 menit pertandingan untuk Barcelona dan Argentina. Jika dirata-rata, pesepakbola 25 tahun itu mencetak gol setiap 63 menit. Demikian dikutip dari Infostrada.

sumber : http://sport.detik.com/sepakbola/read/2013/01/08/054555/2135694/73/ballon-dor-keempat-didedikasikan-messi-untuk-keluarganya
Read More

Sunday, January 6, 2013

Prinsip-prinsip Komunikasi


  1. Prinsip-prinsip Komunikasi
Prinsip-prinsip komunikasi pada dasarnya merupakan penjabaran lebih jauh dari definisi atau hakikat komunikasi. Menurut Prof. Deddy Mulyana terdapat 12 prinsip komunikasi, yakni :

1.    Komunikasi Adalah Proses Simbolik
Salah satu kebutuhan pokok manusia, seperti dikatakan Susanne K. Langer, adalah kebutuhan simbolisasi atau penggunaan lambang. Lambang atau simbol adalah sesuatu yang digunakan untuk menunjuk sesuatu lainnya, berdasarkan kesepakatan sekelompok orang.[1] Lambang meliputi kata-kata (pesan verbal), perilaku non-verbal, dan objek yang maknanya disepakati bersama, misalnya memasang janur kuning didepan rumah atau gedung pertemuan maka itu menunjukkan ada orang yang sedang berhajatan nikahan.
Lambang itu bervariasi dari suatu budaya kebudaya lain, dari suatu tempat ketempat lain, dari suatu konteks waktu ke konteks waktu lain. Misalnya adalah untuk menyebut benda untuk minum orang di Indonesia menyebut gelas, orang Inggris menyebutnya glass, dan orang arab menyebutnya dengan kuubun.

2.    Setiap Perilaku Mempunyai Potensi Komunikasi
Kita tidak dapat tidak berkomunikasi (we cannot not communicate). Tidak berarti bahwa setiap perilaku adalah komunikasi. Setiap perilaku manusia sebenarnya punya potensi untuk ditafsirkan. Seperti jika seseorang tersenyum maka bisa ditafsirkan dia bahagia atau senang, sedangkan jika dia cemberut maka bisa jadi dia sedang ngambek.

3.    Komunikasi Punya Dimensi Isi Dan Dimensi Hubungan
Dimensi isi disandi secara verbal, sementara dimensi hubungan disandi secara nonverbal. Dimensi isi menunjukkan isi (muatan) komunikasi, yaitu apa yang dikatakan. Sedangkan dimensi hubungan menunjukkan bagaimana cara mengatakannya yang juga mengisyaratkan bagaimana hubungan para pelaku komunikasi itu, dan bagaimana seharusnya pesan itu ditafsirkan. Sebagai contoh, kalimat “aku paham” yang diucapkan dengan nada rendah dan raut muka yang kebingungan maka mungkin artinya bisa sebaliknya.
Tidak semua orang menyadari bahwa pesan yang sama bisa ditafsirkan berbeda bila disampaikan dengan cara yang berbeda. Pengaruh pesan juga akan berbeda bila disajikan dengan media yang berbeda. Cerita yang penuh kekerasan yang ditampilkan dalam acara tv akan mempunyai efek yang besar, seperti akan ditiru oleh anak-anak kecil, namun berbeda efeknya jika cerita yang sama disajikan dalam bentuk cerita dalam buku.

4.    Komunikasi Berlangsung Dalam Berbagai Tingkat Kesengajaan
Komunikasi dilakukan dalam berbagai tingkat kesengajaan, dari komunikasi yang tidak sengaja sama sekali (misalnya ketika anda sedang melamun da nada orang yang memperhatikan anda) hingga komunikasi yang benar-benar direncanakan dan disadari (ketika anda menyampaikan presentasi). Namun kesengajaan bukanlah syarat untuk terjadinya berkomunikasi. Dalam berkomunikasi sehari-hari, terkadang kita mengucapkan pesan verbal yang tidak kita sengaja. Akan tetapi sebenarnya pesan nonverballah yang lebih banyak disampaikan tanpa disengaja. Perlu diketahui jika niat atau kesengajaan bukanlah syarat mutlak seseorang untuk berkomunikasi. Banyak kesalahpahaman antar budaya sebenarnya disebabkan oleh perilaku seseorang yang tidak sengaja yang dipersepsi. Ditafsirkan dan direspons oleh orang dari budaya lain.

5.    Komunikasi Terjadi Dalam Konteks Ruang Dan Waktu
Makna pesan juga bergantung pada konteks fisik dan ruang (termasuk iklim, suhu dan sebagainya), waktu, sosial, dan psikologis. Seperti contoh, ketika ada seseorang bercanda gurau dalam rumah, pasar ataupun dikantor dipandang hal yang lumrah (boleh), namun lain cerita jika senda gurau itu dilakukan didalam masjid. Waktu, juga mempengaruhi makna suatu pesan. Misalnya dering telepon dimalam hari akan diartikan berbeda dengan dering sama yang berbunyi disiang hari. Begitu juga dengan ketika ada laki-laki yang mengunjungi teman perempuannya pada malam minggu akan dimaknai berbeda dengan ketika dia datang dimalam yang lain.

6.    Komunikasi Melibatkan Prediksi Peserta Komunikasi
Ketika orang-orang berkomunikasi, mereka meramalkan efek perilaku komunikasi mereka. Prediksi ini tidak selalu disadari, dan sering berlangsung cepat. Seseorang dapat memprediksikan perilaku komunikasi orang lain berdasarkan peran sosialnya. Dia tidak dapat menyapa orangtuanya dengan sapaan “kamu” atau “elu”, kecuali bila dia bersedia menerima resikonya, misalnya akan dicap sebagai anak yang kurang ajar.

7.    Komunikasi Bersifat Sistemik
Setiap individu adalah suatu system yang hidup (a living system). Organ-organ dalam tubuh saling berhungan. Begitupula dengan komunikasi, setidaknya ada dua sistem dasar yaitu : Sistem Internal dan Sistem Eksternal.[2] Sistem internal adalah seluruh sistem nilai yang dibawa oleh individu ketika ia berpartisipasi dalam proses komunikasi. Berlainan dengan sistem internal, sistem eksternal terdiri dari unsur-unsur dalam lingkungan diluar individu, termasuk kata-kata yang harus dipilih untuk berbicara (verbal), isyarat fisik (non-verbal), kegaduhan disekitarnya, penataan ruangan, cahaya, dan temperatur ruangan.

8.    Semakin Mirip Latar Belakang Sosial-Budaya Semakin Efektiflah Komunikasi
Komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang hasilnya sesuai dengan harapan orang yang sedang berkomunikasi. Kesamaan hal-hal tertentu, misalnya agama, ras (suku), bahasa, tingkat pendidikan, atau tingakat ekonomi akan mendorong orang untuk saling tertarik dan pada akhirnya karena kesamaan itulah komunikasi menjadi lebih efektif. Hal yang paling utama adalah bahasa, ketika dua orang sedang berkomunikasi menggunakan bahasa yang sama, ini akan memudahkan kedua orang tersebut untuk saling memahami, namun berbeda jika keduanya menggunakan dua bahasa yang berbeda, dimana satu sama lain tidak mengetahui bahasa orang yang sedang diajak berkomunikasi.

9.    Komunikasi Bersifat Nonsekuensial
Sebenarnya, komunikasi manusia dalam bentuk tatap muka berlangsung dua arah bukan satu arah (linier). Contohnya, ketika seseorang berbicara kepada seseorang lainnya dalam suatu rapat maupun kuliah dianggap si “pemberi pesan”, sedangkan para pendengar dianggap si “penerima pesan”, mungkin komunikasi tersebut hanya dianggap satu arah. Namun sesungguhnya telah terjadi proses komunikasi dua arah. Yakni ketika para pendengar menunjukkan perilaku nonverbalnya, semisal anggukan kepala, sebenarnya merekapun adalah “pemberi pesan”.

10.    Komunikasi Bersifat Prosesual, Dinamis, Dan Transaksional
Seperti waktu, komunikasi juga tidak mempunyai awal dan tidak mempunyai akhir, melainkan suatu proses yang sinambung (continuous). Dalam kehidupan manusia, tidak pernah saat yang sama datang atau muncul dua kali. Begitu juga dengan komunikasi, komunikasi terjadi sekali waktu dan kemudian menjadi bagian dari sejarah. Implikasi dari komunikasi sebagai proses yang dinamis dan transaksional adalah bahwa peserta komunikasi berubah (dari sekedar berubah pengetahuan hingga berubah pandangan dan perilakunya). Implisit dalam proses komunikasi sebagai transaksi ini adalah proses penyandian (encoding) dan penyandian balik (decoding). Kedua proses tersebut terlihat berbeda, tapi sebenarnya adalah terjadi serempak, bukan bergantian. Keserempakan inilah yang menjadi tanda jika komunikasi bersifat transaksi.

11.    Komunikasi Bersifat Irreversible
Suatu perilaku adalah suatu peristiwa. Oleh karena itu perilaku berlangsung dalam suatu waktu dan tidak dapat “diambil kembali”. Dalam komunikasi, sekali seseorang mengirimkan pesan, maka orang tersebut tidak dapat mengendalikan pengaruh pesan tersebut bagi penerimaa, apalagi menghilangkan efek pesan tersebut sama sekali. Ini sama seperti ketika menembakkan peluru dari pistolnya, maka susah atau bahkan mustahil untuk dapat menarik kembali peluru untuk masuk kedalam pistol tersebut.
Sifat irreversible ini adalah implikasi dari komunikasi sebagai proses yang selalu berubah. Maka dari itu bagi para komunikator dituntut untuk bisa berhati-hati dalam mengucapkan atau mengatakan sesuatu, sebab, apa yang telah disampaikan tidak dapat “diambil ulang”, meskipun telah berusa keras untuk meralatnya. Missal, seseorang yang sengaja berbohong, sulit bagi orang lain untuk tidak menganggapnya pembohong meskipun sebenarnya apa yang dikatakan setelahnya tidak bohong lagi.

12.    Komunikasi Bukan Panasea Untuk Menyelesaikan Berbagai Masalah
Banyak persoalan dan konflik antar manusia disebabkan oleh masalah komunikasi. Namun komunikasi bukan panasea (obat mujarab) untuk menyelesaikan persoalan atau konflik itu, karena persoalan itu mungkin berkaitan dengan masalah struktural. Agar komunikasi efektif, tentu saja masalah strukturalnya pun harus dibenahi. Misalnya, meskipun pemerintah bersusah payah menjalin komunikasi yang efektif dengan warga aceh dan papua, tidak mungkin usaha itu akan berhasil bila pemerintah memperlakukan masyarakatnya diwilayah tersebut dengan tidak adil (merampas kekayaan alam dan membawanya kepusat).


[1] Prof. Deddy Mulyana.2012. Ilmu Komunikasi : Suatu Pengantar. Hal 92
[2] Sereno dan Bodaken, hlm. 10-12
Read More

Sunday, December 16, 2012

Terrorism Never Dies



Terrorism is a word that has always been a hot topic. Especially in the land of emerald equatorial Indonesia. There have been many events that happened to this country in terms of terrorism. Since from the past until recently, ranging from Kuta Bali bombing and the JW Marriot bombing. Why are so many terrorism that plagued the country. Who is wrong? Are the law enforcement has a duty to secure, but did not do its job with no professional? Now many questions arise as to the cause or the root causes of terrorism in Indonesia.
Terrorists always use the reason for the name of Islam launch the action. Terrorists thought if what they did was jihad. Jihad is defined by terrorists as a good thing, even for those things that need to be considered jihad fought and important for establishing goodness or truth in Indonesia. Actually, terrorist is wrong in interpreting the theory of jihad in the religion of Islam. It is true, in a known Islamic concept of jihad. At the time of the Prophet Muhammad first identified with the fight jihad against unbelievers. However, in interpreting its own jihad would be better if you look at the context first. Is it true if jihad is fighting the west is labeled by the terrorists as an infidel? Certainly that is not easy. Keep in mind what the true meaning of jihad, jihad is derived from Arabic meaning jahada-yujahidu were full. Then it would be nice if the jihad is perceived as seriously.
Actually a lot of things behind the terrorism in Indonesia. However, if only the pure doctrine given by the main character to the new recruits? The doctrine of jihad terrorism in the form of concept that promises an abundance of merit and goodness. The terrorists will be lured in the form of beautiful things, such as to heaven if you die in the line of duty. Then the most important economic factor, why? Since nearly most people recruited into a terrorist is a person who has a weak economy. They promised to get money or livelihood. This is evident from the life obtained by the terrorists in the day to day. They can survive without working, but it actually takes to prepare a bombing of fund.
True, the concept of Jihad in Islamic teachings. However, not a jihad that has been exhibited by terrorists, such as Dr. Azhari and Imam Samudra etc. The concept of jihad should be implemented in a variety of activities, not only bombed in the name of establishing religion. It is not like that, here is intended if in carrying out all the things in earnest. Such as the student, should be serious in learning. For a teacher was supposed to teach the students seriously, not just  go to class and through it away. It must be a Muslim to understand the meaning of jihad, more broadly, not just from a narrow angle.
By : Asyhari Amri
Read More

Friday, December 14, 2012

Terroris Never Die



Terorisme adalah salah satu kata yang selalu menjadi topik hangat untuk dibicarakan oleh banyak orang dari berbagai kalangan. Terutama dinegeri jamrud katulistiwa Indonesia. Telah banyak kejadian yang menimpa negeri ini dalam hal terorisme. Sejak dari dulu hingga baru-baru ini, mulai dari bom Kuta Bali, bom hotel J.W. Marriot, dan beberapa saat lalu ketika pos polisi diserbu oleh bom molotof  oleh orang yang tak dikenal. Mengapa begitu banyak sekali terorisme yang melanda negeri ini? Apakah yang salah? Apa sistem keamanan yang kurang baik sehingga menjamurnya para teroris. Atau siapakah yang salah? Apakah para penegak hukum yang mempunyai tugas untuk mengamankan namun tak melakukan tugasnya dengan tidak professional? Kini timbul banyak pertanyaan mengenai penyebab atau akar permasalahan terorisme di Indonesia.
Pelaku terorisme atau teroris selalu menggunakan alasan dasar nama agama Islam untuk melancarkan aksinya. Teroris berpendapat jika apa yang mereka lakukan adalah jihad. Jihad diartikan oleh teroris sebagai sesuatu yang baik, bahkan bagi mereka jihad dianggap hal yang perlu diperjuangkan dan penting demi mengakkan kebaikan atau kebenaran di Indonesia. Namun inikah yang disebut dengan jihad dengan benar? Sebenarnya teroris salah hanya dalam mengartikan teori jihad dalam agama islam. Memang benar, dalam islam dikenal suatu konsep jihad. Pada zaman masa Nabi Muhammad dahulu jihad diidentikkan dengan berperang melawan kaum kafir. Para Shahabat Nabi yang ikut berperang dianggap sedang berjihad. Akan tetapi dalam mengartikan jihad sendiri alangkah lebih baik jika melihat konteks terlebih dahulu. Pastaskah jika jihad yang dimaksud adalah memerangi kaum barat yang dicap oleh teroris sebagai orang kafir? Tentu saja tidak segampang itu. Perlu diketahui apa arti jihad yang sesungguhnya, jihad berasal dari bahasa arab yaitu jahada-yujahidu yang berarti sungguh-sunguh. Kemudian alangkah baiknya kalau jihad dipersepsikan sebagai sungguh-sungguh.
Terroris Never Dies
Sebenarnya banyak hal yang melatarbelakangi terorisme di Indonesia. Namun, apakah hanya murni dari doktrin yang diberikan oleh para tokoh utama kepada rekrutan baru? Doktrin terorisme berupa konsep jihad yang menjanjikan melimpahnya pahala dan kebaikan. Para teroris baru akan diiming-imingi berupa hal-hal indah, seperti masuk syurga jika mati dalam menjalankan tugas. Kemudian yang paling penting adalah faktor ekonomi, mengapa? Karena hampir kebanyakan orang yang direkrut menjadi teroris adalah orang yang mempunyai ekonomi lemah. Mereka dijanjikan untuk mendapat uang ataupun penghidupan. Ini terbukti dari kehidupan yang didapatkan oleh para teroris dalam sehari-harinya. Mereka dapat bertahan hidup tanpa bekerja, selain itu sebenarnya untuk menyiapkan suatu pemboman dibutuhkan dana yang tidak sedikit.
Memang benar, Islam mengenal konsep Jihad dalam ajarannya. Akan tetapi bukan berupa jihad yang telah dipertontonkan oleh para teroris, misalnya Dr. Azhari dan Imam Samudra dkk. Konsep jihad seharusnya diimplementasikan dalam berbagai kegiatan, tidak hanya membom atas nama menegakkan agama. Bukanlah seperti itu, disini dimaksudkan jika dalam melaksanakan segala suatu hal dengan sungguh-sungguh. Semisal sebagai sorang mahasiswa, hendaknya dapat bersungguh-sungguh dalam belajar dan mengerjakan tugas. Bagi seorang dosen pun seharusnya mengajar para siswanya dengan sungguh-sungguh, bukan hanya asal masuk kelas dan melaluinya begitu saja. Haruslah seorang muslim untuk memahami arti dari jihad secara lebih luas, bukan hanya dari sudut sempit.

Read More

Thursday, December 13, 2012

Seminar Nasional dan Sosialisasi Membangun Budaya Digital di Perguruan Tinggi



(4/12/2012) Pusat Komputer dan Sistem Informatika (PKSI) UIN Sunan Kalijaga adakan Seminar nasional dengan tema "Digital Lifestyle Experience for Higher Education". Acara  ini diadakan digedung Convention Hall dan dihadiri oleh mahasiswa, dosen, karyawan dan masyarakat umum. Seminar ini dibuka langsung oleh Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof. Dr. H. Musa Asy'arie dengan Gong Digital. Menurut Ketua PKSI, Agung Fatmanto, Ph.D., kegiatan ini diadakan sebagai komitmen UIN Sunan Kalijaga dalam mewudkan kampus digital dan sebagai upaya membangun budaya  digital di perguruan tinggi. “ Di era globalisassi saat ini, perguruan tinggi harus memaksimalkan pengunaan tekhnologi digital, mengingat perkembangan arus informasi yang begitu pesatnya, hal ini sebagai imbas dari kemajuan dunia digital yang terjadi saat ini. Penerapan teknologi digital juga harus dibarengi dengan peningkatan pengetahuan teknologi komputerisasi bagi seluruh civitas kampus, baik dosen, pegawai dan mahasiswanya, agar menjadi sinergisitas”, tutur Agung Fatmanto yang juga dosen pada Fakultas Sains dan Teknologi. Dalam seminar ini menghadirkan Ryan Fabella (Client Software Architec IBM), Pepita Gunawan (Indonesian Google Southeast Asia dan Agung Fatmanto, Ph.D. sebagai pembicara.
Dalam sambutannya Musa Asyarie menyampaikan bahwa, UIN Sunan Kalijaga akan senantiasa mengembangkan kampus menuju kampus digital, karena, dengan penerapan teknologi digital, semua akses informasi akan menjadi mudah. Perkembangan teknologi yang begitu pesat seharusnya kita manfaatkan dan direspons secara positif, jangan sampe dengan perkembangan itu kita malah menjadi keblinger. “ Saat ini kita sudah dikuasai oleh dunia ‘kotak’, karena sebagian besar alat teknologi yang kita gunakan berbentuk kotak, PC, Monitor, PC Tablet, HP, Laptop semuanya berbentuk kotak. Melihat hal ini, kita jangan sampai dikotak-kotakkan oleh barang ‘kotak’ ini. Karena dengan barang ‘kotak’ ini individualisme akan semakin meningkat, untuk itu filter dalam penggunaan teknologi di era digital ini sangat penting”, tutur Musa.
“ Dalam acara ini juga dihadiri oleh delegasi PTAIN se-Indonesia dan delegasi pusat komputer Perguruan Tinggi dan civitas Mahasiswa se-DIY ”, tambah Agung. *(Doni Tri W-Humas UIN Suka)
 Sumber : http://www.uin-suka.ac.id/berita/dberita/674
Read More

Wednesday, December 5, 2012

Bersiaplah! Wabah Alay Melanda !


Bersiaplah! Wabah Alay Melanda !
alay
            Mungkin kalimat plesetan seperti “loe gue end”, “capek dech” dan “prikitiew” yang sempat menjadi tren, sudah tidak lagi sering kita dengar. Seiring pergantian zaman revolusi kalimat plesetan terus pula berganti. Biasanya kata-kata ini diperkenalkan oleh kalangan artis atau pelawak. Dalam berbagai acara sitkom (situasi komedi) maupun acara humor para pelawak selalu menyebutkannya. Selain muncul dalam acara komedi, kalimat ini juga muncul sebagai jargon produk iklan. Ini dikarenakan banyak orang memang menggandrungi kalimat lucu alias konyol. Tidak hanya menjadi tren artis belaka, akan tetapi hampir semua lapisan masyarakat sangat fasih melafalkannya. Bahkan, anak kecil seusia SD tidak lagi canggung mengucapkannya. Sekarang kalimat itu disebu dengan kalimat alay.
            Dewasa ini kalimatnya sudah berevolusi, bukan lagi “loe gue end”, “capek dech” dan “prikitiew”. Melainkan “ciyus”, “miyapa” dan “gue harus bilang wow gitu”. Sekedar bermula dari iklan dan acara komedi, wabah alay telah menyerang berbagai kalangan pemuda yang disebut dengan “alayer”. Mulai dari siswa, mahasiswa dan anak-anak kecil. Dari kampus, sekolah, tempat umum dan dimanapun kita sudah pasti akan sering mendengarnya. Dalam kampus penulis sendiri, hampir semua mahasiswanya sangat fasih melafalkannya. Dalam berbagai kegiatan para mahasiswa tidak sukar untuk mengucapkannya, yang paling parah adalah mereka juga tidak ragu menggunakan kalimat alay dalam sesi perkuliahan. Dosenpun merespon dengan dingin, karena memang dianggap kalimat itu sudah lumrah dikalangan mahasiswa. Contohnya adalah ketika ada seorang dosen yang memberikan tugas dadakan kepada mahasiswanya, dengan serempak layaknya paduan suara seisi ruang menjawab “ciyus pak?”.
            Efek yang sangat luar biasa ditimbulkan dari kalimat-kalimat alay ini, bukan hanya dijadikan “guyonan” semata. Akan tetapi sudah menjadi gaya hidup. Terbukti, layaknya jamur dimusim hujan merebaknya para alayer dari hari kehari semakin banyak. Dalam berbagai kegiatan, kalimat alay tak terbendung lagi bagaikan lagu kebangsaan yang dinyanyikan pesepakbola sebelum memulai pertandingan. Ini semacam ritual wajib dan kurang afdol untuk tidak mengucapkannya. Penulis sendiri juga sangat fasih menyebutkan kalimat alay tersebut, dan tidak mau ketinggalan untuk terus beralay ria. 
Read More